Perjuangan Santri dan Ulama dalam Mempertahankan Kemerdekaan

(Sekpim_17.08.2019. Karang Anyar.)

Pimpinan Ponpes Al-Mujtama’ Al-Islami Dr. KH. Bukhori Abdul Shomad, MA Sebagai Pembina Upacara HUT RI ke 74, dalam amanat nya beliau menyampaikam banyak pesan untuk para santrinya, salah satu pesannya adalah “Indonesia Merdeka Bukan Pemberian Kolonial Tetapi Hasil Jerih Payah Pengorbanan Harta Pikiran Bahkan Jiwa Raga Para Syuhada yang terdiri dari masyarakat, Kiyai dan Santri, Maka jika anak anaku sukses nanti jangan jual negeri ini untuk kepentingan pribadi dan golongan, tapi jadikan kemerdekaan ini untuk kemakmuran rakyat Indonesia, Santri Mujtama’ untuk Indonesia dan Siap Mewarnai Dunia…”

Teman temanku semua kita harus pahami bahwa tidak bisa dipungkiri, perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia mengusir kaum imperialis (penjajah) dari tanah air tercintanya tidak lepas dari peran besar tokoh-tokoh Islam negeri ini. Bahkan, tidak sedikit pemuka agama samawi yang terjun langsung ke garis depan menghadapi perang. Pentingnya, tak sedikit pula yang berpulang kebaribaan Ilahi Robbi sebagai pahlawan syuhada.

Tak terhitung jumlah muslim Nusantara yang gugur sebagai syuhada, diserahkan oleh Pemerintah Republik Indonesia yang ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional. Kita tahu Pangeran Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol, Teuku Umar, Bung Tomo, dan masih banyak lagi yang mengobarkan semangat jihad para pejuang untuk berperang meningkatkan penjajah, hengkang dari pertiwi bumi, bahkan bisa membunuhnya.

Selama hampir empat abad masa penjajahan di Indonesia, para syuhada yang memilih alim ulama berada di tengah-tengah pejuang muslim. Mereka senantiasa memacu semangat hizbullah untuk menyetujui bangsa kuffar di wilayahnya masing-masing. Yang tidak bergantung pada peperangan Biasanya yang dipegang memegang kendali strategi perang, dan senantiasa menjadi rujukan para pejuang untuk menentukan Arah gerakannya. Ke mana pun pejuang bergerak, para ulama itu setia mendampingi.

Tidak itu saja, dari perannya mengawal perjuangan merebut kemerdekaan hingga mempertahankannya, saat bangsa imperialis berhasil kembali bercokol di negeri berjuluk Zamrud Di Katulistiwa ini, kekokohan akidah Islam negeri ini tetap aman. Padahal, kaum penjajah yang kafir tidak ingin menguasai tanah, tapi juga memaksakan kekafirannya untuk bangsa yang membutuhkan muslimin dan taat terhadap religinya itu.

Selain itu, melalui kawalan para tokoh-tokoh Islam penerusnya, awal terbangunnya negeri ini sarat diwarnai dengan nuansa dan norma-norma hukum Islami, serta kompilasi perumusan Undang-undang Dasar 1945. Selain itu, juga ada satu negara di Asia Tenggara ini, dengan enam puluh tiga tahun kemerdekaannya sebagian besar masih setia dengan syariat agamanya, berkat perjuangan pemimpin islam tersebut. Kondisi ini yang harus kita upayakan agar tetap aman ilaa yaumil qiyamah .

Nah, di sinilah perlunya pertolongan kiprah mereka untuk memantapkan keyakinan tentang Islam bersama para pemimpinnya di negeri Pancasila ini telah dan telah menyumbangkan andil cukup signifikan di masa perjuangan kemerdekaan, membentuk negara berdaulat, hingga liku-liku perjalanannya saat ini.

Untuk mengetahui kiprah tokoh-tokoh Islam di masa perjuangan kemerdekaan negeri kita, pada momentum enam puluh tiga tahun kemerdekaan RI kali ini, reporter Djoko Sujanto berhasil mewawancarai salah seorang pejuang kemerdekaan yang dibantu berjihad bersama para ulama di wilayah Pasuruan, sebuah kota kecil di Jawa Timur.

Ini salah satu upaya CN yang ingin merefresh(membangkitkan / membangkitkan kembali, merah) jiwa patriotisme dan nasionalisme generasi penerus anak bangsa, terutama dari kalangan muslimin. Mereka yang sama sekali tidak berhasil melewati masa perjuangan.

Pemulihan kiprah perjuangan ini juga untuk menumbuhkan kembali semangat menghargai bangsa dan tanah air pada diri pemuda, meski dalam bentuk lain. Pasalnya, hasil pengamatan beberapa pakar sosiologi, akhir-akhir ini semakin tajam dekadensi (kemerosotan) jiwa patriotisme dan nasionalisme di kalangan sebagian besar pemuda Indonesia.

Mantan pejuang yang ditemui media kita ini adalah H. Satoeri (94 tahun), seorang purnawirawan ABRI P (Kepolisian) tahun 1975. Dari kegiatannya malang melintang di medan perjuangan, dia mendapatkan hadiah dari Presiden RI sebagai Bintang Gerilya Tahun 1963, Satya Lentjana PK Perang Kemerdekaan) I & II Tahun 1965, dan Satya Lentjana Jana Utama Tahun 1967. Meskipun sebenarnya dia tidak mengharapkannya.

Menurutnya, hanya berjuang yang tidak dihargai, namun hanya ingin yang berhasil dari cengkeraman dan penindasan kejam yang tak berperikemanusiaan yang berkolaborasi dengan kaum atheis (tak bertuhan). Dia sangat merasakan pahit getirnya masa penjajahan.

“Dijajah itu sengsara nak, kita saat itu mati untuk hidup. Bagaimana tidak, kita tidak bisa bergerak bebas, terkungkung di suatu tempat yang sangat terbatas, karena keserakahan penjajah. Serba kesulitan mendapatkan kebutuhan hidup. Pokoknya susah sekali. Alhamdulillah, melihat keadaan itu tumbuh semangat dalam jiwa ini untuk berjihad, “paparnya dengan suara agak tersendat, karena napasnya acap kali tersengal mengiringi usianya yang semakin udzur.

Pria yang sekarang masih semangat hadir di majalisul khoir (majelis-majelis kebaikan) itu kemudian membahas kronologis kiprahnya menyelesaikan penjajahan bersama ulama dan rekan-rekan seperjuangannya. Beragam acara dengan detail yang menggebu.

Pada clash II tahun 1947, Belanda yang ingin kembali memimpin Indonesia berhasil meluncurkan negeri ini membonceng pasukan NICA. Pasukan penjajah dari negeri kincir angin itu memasuki kota Pasuruan pada bulan Juli, melalui Arah selatan dari Malang menerobos daerah Weringin Contang Pacarkeling (wilayah kabupaten Pasuruan).

Pasukan pejuang H. Satoeri pimpinan Imam Jembrak(julukan laki-laki yang berambut panjang) dan Faqih mulai mengumpulkan aksi sejak hari pertama berangkat pasukan Belanda di kota Pasuruan. Itu dilakukan setelah melakukan pengamatan cermat terhadap gerakan mereka. Diawali dengan cara membuat di kota, memutus kawat-kawat listrik dan kabel-kabel telepon jaringan fital yang menghubungkan lembaga-lembaga penting yang dikuasai Belanda.

Tidak hanya itu, untuk mendapatkan persenjataan perang yang dilakukan Imam mengadakan penyerbuan ke tempat-tempat konsentrasi pasukan musuh yang diperkirakan sebagai tempat penyimpanan senjata. Juga, dengan melakukan penyergapan dan penghadangan pasukan musuh yang tengah berpatroli, untuk merampas senjatanya.

Kembali markas musuh diserbu, dikirim ke pabrik Boma Stork, Rumah Sakit Purut, pabrik Pleret (TTI sekarang, red), Poncol, markas Gadingrejo, dan di Stasiun Bukti (P3GI). Sementara penyergapan dilakukan terhadap polisi patroli Belanda di Karangketug, Sutojayan Pohjentrek, Kejayan, Tamba’an, Sangar, Bugul, Gembyang Kraton, Alun-alun, di Jl. Diponegoro, dan Jl. Nusantara.

Aksi itu membuahkan hasil, enam puluh satu pucuk senjata, baik pistol maupun senjata laras berhasil dirampas dari pasukan Belanda. Juga, dua buah mesin tulis, dan sembilan belas sepeda pancal. Tak hanya itu, dua belas Polisi Belanda pun terbunuh. Namun, di sisi lain tujuh orang pasukan pejuang gugur tertembak.

Setelah berhasil memiliki senjata, pejuang kita melakukan penyerangan pada malam hari dengan gerilya (serang dan lari, red) melawan pasukan Belanda di berbagai tempat, termasuk penyerbuan pos-pos polisi Belanda di Sangar dan Kebonagung. Hanya saat melakukan penyerangan malam hari para pejuang menggunakan pakaian serba hitam, untuk mengelabui musuh.

Aksi itu menyebabkan pasukan lawan Terbalik yang kemudian menghasilkan serangan balik dengan tembakan mortir. “Alhamdulillah, tak satu pun tembakan mereka tentang sasaran. Peluru mortir itu semuanya nyasar ke sawah-sawah, ”cerita purnawirawan Polisi dengan pangkat terakhir Peltu, di Komres 1025 (sekarang Polres, red) Lumajang ini.

Kegagalan serangan balik pasukan musuh itu menyelamatkan wilayah pertahanan pasukan Imam bersama rakyat penghuninya. Saat ini pos-pos pertahanan hizbullah ini berada di desa Gentong, Bukir dan Sangar. Itu sebabnya, Imam Cs semakin meningkatkan peluang serangan terhadap musuh di pusat kota. Mereka melakukan penyerangan, sebagian pada malam hari hingga akhir tahun 1948, ”papar H. Satoeri.

Untuk mendekatkan posisi pejuang dengan sentra-sentra mendapat pasukan musuh, pasukan Imam membentuk pos-pos komando (posko) di wilayah kota. Itu dilakukan setelah Imam Cs. bergabung dengan kawan-kawan perjuangan TRI Hizbullah yang menyatakan diri hijrah ke pasukan republik.

Ada empat belas posko didirikan di sebelas desa wilayah kota Pasuruan, yaitu posko masing-masing dibangun di Sangar, Bangilan, Mayangan, Tamba’an, Gentong, Sebani, Wirogunan, Purutrejo, Kepel / Tapa’an, dan Petung / Bakalan. Sementara di Kebonsari didirikan empat posko.

Empat posko di Kebonsari dan sebuah di Bangilan merupakan posko terdekat dengan lokasi musuh yang bermarkas di pusat kota. Posko-posko ini digunakan selama tahun 1948. Sebuah posko bekas yang digunakan dan tidak berubah sekarang (dindingnya tidak diubah, dindingnya tetap dari papan-papan kayu) adalah yang berada di Jalan Diponegoro, Kebonsari, yang merupakan musholla. Masyarakat Pasuruan bertemu Langgar.

Karenanya, kata H. Satoeri, hingga kini musholla itu disebut “Langgar Perjuangan”. Setiap bulan Ramadhan musholla menjadi salah satu tempat kegiatan Khotmul Qur’an Keliling asuhan Ustadz Habib Taufiq Assegaf, yang dihadiri berbeda jamaah. “Barangkali itu salah satu bentuk penghargaan generasi sekarang melawan perjuangan pahlawannya. Dengan begitu kita dapat mengenang terus perjuangan beliau-dia itu, ”tutur Bapak berputra enam belas orang itu.

Awal tahun 1949 Batalyon Syamsul Islam masuk Pasuruan, mengundang imam bergabung dalam formasi Batalyonnya. Kedua pasukan itu disatukan dalam Kompi Ngadipurnomo. Penggabungan pasukan kedua semakin meningkat. Itu sebabnya, pejuang-pejuang muslim itu kemudian mengeluarkan wilayah perjuangannya hingga daerah kabupaten Pasuruan, bahkan menerobos kota Malang dengan membangun pos komando baru.

Tempat kompilasi pejuang yang diperintahkan menjemput Akub Djaenal di Malang untuk diajak menuju salah satu markas pejuang di kota Pasuruan, yaitu di rumah KH. Abdul Rochim, Jalan Nusantara Gang V (sekarang Jl. KH Wachid Hasyim). Di tempat itu mereka melakukan pertemuan dengan strategi penyerangan beberapa sasaran musuh.

Namun, pada saat bersamaan, pejuang kita mendengar keputusan gencatan senjata dari pihak Belanda. Tanpa prasangka buruk atau khawatir jangan-jangan meminta itu menjadi siasat licik para musuh untuk mendukung pasukan Allah, maka Imam Cs segera menuju pusat kota untuk meningkatkan keamanan di sana.

Ternyata benar, perkiraan pasukan Imam meleset, dan tanpa perlawanan Belanda menentang seluruh pejuang H. Satoeri. Selanjutnya, Imam Cs dipindahkan sementara di Gedung Trikora / Harmoni (sekarang digunakan STM Untung Suropati), lalu dibawa ke penjara Lowokwaru Malang.

Di penjara itu pejuang-pejuang muslim melakukan puasa bersama selama empat puluh hari. Ketika masa tirakatnya dimulai, hari ke dua puluh, perjalanan para imam dengan menggunakan batu bata dan lombok / cabe yang akan menghasilkan senjata untuk melumpuhkan penjagaan perang.

Batu bata itu ditumbuk halus kemudian dicampur cabe yang telah dihaluskan. Menurut H Satoeri campuran serbuk bata dengan cabe itu sangat ampuh sebagai senjata. Benar, kompilasi mulai hari ke empat puluh puasa, pasukan Imam menggerakkan seluruh penghuni dan berhasil melumpuhkan Campuran serbuk batu bata cabe itu ditebarkan ke mata pengaman penjara.

“Akhirnya, penghuni penjara Lowokwaru keluar semua, bebaslah kami. Kami dapat merampas senjata penjaga penjara itu. Namun kami juga kehilangan dua rekan pejuang yang mati tertembak, ”kisahnya bersedih.

Kiai Bangkitkan Semangat Pejuang

Keberhasilan H Satoeri melawan musuh bersama-sama rekan seperjuangannya yang dipimpim Imam Jembrak diakuinya berkat pertolongan Allah, Robbul Izzati, melalui wasila para kiai. Menurutnya, para kiai Pasuruan selalu meluangkan waktu untuk pejuang. Salah satunya, beliau-beliau senantiasa menerima kedatangan pejuang yang meminta doa restu sebelum berangkat perang. Ulama-ulama harus menentukan kapan pun pejuang harus menyerang atau tidak, dan melepaskan serangan.

H Satoeri menyebut sejumlah kiai yang berjasa membangun semangat pemimpin setiap kali melakukan penyerangan. Pemimpin-pemimpin Islam yang diundang KH. Abdullah bin Yasin, KH Abdul Chamid, Kiai Achmad Sahal, Kiai Mas Imam, KH Abdul Rochim dan KH Achmad Rifa’i, semuanya dari Kebonsari. Kemudian KH Achmad Dahlan (pernah menjadi Menteri Agama RI) dari Gentong, KH Achmad Djufri dari Besuk, dan KH Nur ayah KH Djasim Podokaton, berasal dari wilayah Kabupaten Pasuruan.

“Semua gerakan kami tidak lepas dari bimbingan dan petunjuk para kiai itu. Bahkan, beliau-beliau memberikan bekal kami berupa kekebalan fisik, dengan memberikan gemblengan dan bacaan doa-doa. Untuk gemblengan kekebalan fisik biasanya diberikan oleh KH Achmad Rifa’i. Kiai satu ini yang setia dilanjutkan kemana kami berjalan, sementara harus berjalan kaki beberapa kilometer, ”ungkap kakek ini.

Suatu saat, saat ditanya penyerangan Kantor Pos yang dikuasai Belanda, Imam tidak bergairah sama sekali. Sekujur tubuh terasa loyo. Akhirnya semua pejuang memohon kekuatan kepada Allah SWT dengan bertawassul di surga Surga-surgi dan turbah habaib disampingnya. Masyaallah, tambah H Satoeri, kekuatan dan semangat itu tumbuh lagi. Bahkan, meski ditembaki musuh tidak terasa sama sekali, luka tembak pun tidak ada.

Penyerangan terhadap Kantor Pos dilakukan oleh beberapa polisi Belanda yang mangkal di kantor itu telah menembaki H Satoeri saat menurunkan bendera Belanda dari tugu Alun-alun yang saat ini masih terdiri dari bambu, kemudian menggantinya dengan bendera Merah Putih. Anehnya, meski ditembaki dari jarak yang relatif tidak jauh, tak satu pun peluru pun mengenai. Begitu pula tak sedikit rasa takut pun menghinggapi dirinya. Malah dengan berani dia menghampiri kantor itu untuk mencari oknum penembaknya.

Sampai pada acara itu H Satoeri menghentikan penjelasannya. Usia dan fisiknya tak mau lagi diajak kompromi untuk berlama-lama bercerita dan mengingat cerita lama. Itu sebabnya, dia menyimpangkan saat memberi penjelasan tentang heroik perjuangannya bersama para pemimpin Islam itu, tak perlu rekan kerja bergantung di sampingnya untuk membantu melengkapi keterangannya.

Mereka semua, katanya, telah mendahului menghadap Allah SWT ke alam barzagh (meninggal). Tinggal dirinya yang semakin tua dan mulai berkurang kekuatan memorinya. Karena, dia masih belum puas memberikan jawaban kepada CN, sebab ada yang lebih banyak yang hilang dari ingatannya.

Karena itu, kompilasi memberikan keterangan kepada reporter CN dia membaca tulisan yang sudah dia siapkan sebelumnya. Tulisan tentang dokumentasi perjuangannya di medan perang disusun dan diketik pada tanggal 5 Maret 1984. Dokumen itu dia perbanyak untuk diberikan kepada pihak-pihak yang diminta, termasuk media informasi.

“Seandainya ada satu saja teman seperjuanganku yang masih hidup pasti akan aku ajak membantu melengkapi cerita ini. Jadi, kamu nak bisa tahu acara heroik itu dengan jelas. Di samping agar saya tidak dianggap cerita bohong, ”pungkasnya dengan meneteskan udara mata. (kl / forsansalaf.com)


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *